Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911.JAKARTA -- Fenomena penegakan hukum di Indonesia kembali hangat dan menjadi sorotan dari berbagai kalangan. Mulai DPR, pengamat, praktisi hukum, akademisi, hingga mahasiswa. Hal ini terkait penangkapan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.

Kasus tersebut kembali mengganggu netralitas para penegak hukum di negeri ini. Merujuk pada Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara hukum. Hal ini dikatakan Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya, Kadrian Muhlis, dalam siaran persnya, Senin (6/2).

"Kedudukan dan persamaan di depan hukum harus memerhatikan azas equality before law yang menjadi prinsip utama dalam penegakan hukum. Dalam konteks ini, penegak hukum haruslah bersifat netral," ujar Kadrian.

Penegak hukum sangat tidak dibenarkan dalam menerima suap. Perilaku tersebut, akan melukai rasa keadilan, serta menabrak netralitas dari hakim itu sendiri.

"Penangkapan Patrialis Akbar oleh KPK bukanlah kasus pertama bobroknya netralitas penegak hukum di negeri ini. Sebelumnya di tahun 2013, Hakim Mahkamah Konstitusi Akil Mokhtar juga ditangkap atas perbuatan melawan hukum," tegas dia.

Dalam perjalanannya sebagai hakim konstitusi, Patrialis Akbar memiliki rekam jejak yang kurang baik. Dia diduga bermain dalam penyelesaian sengketa Pilkada di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara pada 2015, dan dikabulkan pada 2016.

Dia juga diduga bermain pada sengketa Pilkada di Kabupaten Teluk Bintuni Papua barat pada 2015, dan dikabulkannya pada tahun 2016. Hal serupa juga dengan perselisihan hasil pemilihan bupati Kabupaten Halmahera Selatan pada Pilkada serentak pada 2015 dan dikabulkan pada 2016 dan kasus lainnya.

Menurutnya, beberapa kasus tersebut menunjukkan netralitas penegak hukum di negeri ini khususnya hakim, masih menjadi pertanyaan. Indonesia sendiri merupakan negara hukum dengan sistem civil law.  (nn/rol)


Top