Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. JAKARTA--Tertangkapnya Hakim Konsitusi Patrialis Akbar harus menjadi momentum perubahan rekrutmen hakim konstitusi ke depannya. Hal ini karena proses rekrutmen hakim konstitusi selama ini belum transparan. Kata Mantan Ketua Komisi Yudisial, Suparman Marzuki, dalam diskusi bertajuk "Korupsi di Mahkamah Konstitusi?" di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/1).

"Ini harus ada perubahan total pola rekrutmen, rekrutmen harus transparan dan sungguh-sungguh," ujar Suparman.

Suparman mengatakan bahwa pola rekrutmen hakim konstitusi selama ini diusulkan tiga lembaga yakni oleh Pemerintah, DPR dan Mahkamah Agung. Namun pada prakteknya, tidak ada acuan baku bagi ketiga lembaga tersebut untuk menentukan mekanisme hakim konstitusi tersebut.

Pengusulan lebih berdasarkan selera di tiap-tiap lembaga tersebut. "Kemarin mekanisme itu ditentukan oleh masing-masing lembaga, jadi menurut saya, ini harusnya ditentukan UU, di tiga itu harus sama, kalau nggak, berdasarkan selera-selera saja," kata Suparman.

Ia mencontohkan rekrutmen kepada Patrialis Akbar yang merupakan hasil dari usulan Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada waktu itu. Ia pun mempertanyakan proses mekanisme saat itu terkait integritas dan kompetensi hakim konsitusi, sehingga kemudian terjadi peristiwa yang terjadi saat ini.

Karena menurutnya, tidak ada tawar menawar untuk syarat menjadi hakim konstitusi. "Integritas dan kompetensi itu wajib, kumulatif, tidak bisa ditawar," katanya. (nn/rol)


Top