Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat


SuryaNews911.KENDARI -- Tak perlu meributkan kenaikan harga cabai. Terlebih hanya satu sub-cabai, yakni cabai rawit yang harganya naik. Hal ini dikatakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, saat Rapat Koordinasi Pangan di Hotel Clarion, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (13/1/).

Amran mengatakan harga beberapa jenis cabai lainnya seperti cabai besar, cabai keriting dan cabai-cabai lainnya masih terkendali.

Sementara itu, Amran mengatakan kenaikan harga cabai rawit disebabkan La Nina. Tapi hal tersebut tidak perlu menjadi polemik nasional. Sebab, cabai bukan makanan pokok dan strategis. "Tidak bersyukur ada tiga belas komoditas strategis yang naik, ini cuma satu itu, cabai, ampun kita," kata Amran.

Amran mengatakan pemerintah Indonesia menyelamatkan devisa Rp 10 triliun setelah menekan impor jagung sebanyak 66 persen dalam dua tahun. "Impor sudah turun 66 petsen menjadi 900.000 ton. Sebelumnya, Indonesia masih mengimpor 3,6 juta ton jagung," uja Amran.

Ia menyayangkan keberhasilan tersebut ditutup oleh isu cabai. Amran bercerita ada seorang pengamat yang tidak bisa membedakan pangan dengan cabai. "Apa nggak bisa bedakan pangan dengan cabai. Cabai dengan pangan itu perbedaan (jauhnya) seperti Aceh dengan Irian. Pangan itu yang sifatnya strategis seperti padi, jagung itu juga pokok," katanya.

Amran memastikan hanya cabai rawit saja yang naik, sedangkan cabai keriting dan cabai besar harganya jatuh. "Tapi rawit naik beritanya digoreng dua minggu. Harus berpikir positif sayangi negeri ini, jangan diputar-putar terus beritanya. Ada beritanya rawit di Balikpapan Rp 200 ribu per kg, saya telepon orang bagian pangan di sana hanya Rp 40 ribu per kg kok," tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut Amran juga memaparkan target dan strategi pemerintah meningkatkan produktivitas pertanian. Amran mengatakan pemerintah terus menggenjot produktivitas berbagai komoditas strategis. Setelah beras tidak impor, kata Amran, tahun depan jagung ditargetkan untuk tidak impor. (nn/rol)




Top