Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. PEKANBARU - Anggota Komisi B DPRD Riau yang membidangi ekonomi mengaku belum menemukan formulasi atau cara untuk menekan tingginya harga cabai keriting di daerah setempat belakangan hari ini hingga tembus Rp 110 ribu.

"Untuk jangka pendek mau tidak mau, suka tidak suka, kondisinya memang seperti itu karena hukum pasar berlaku. Tapi pemerintah sebaiknya punya cara lain menekan harga cabai. Ini yang belum kita temukan formulasinya," kata Ketua Komisi B DPRD Riau, Marwan Yohanes di Pekanbaru, Senin (7/11).

Menurutnya, meskipun di sisi lain petani menikmati harga segitu, tapi masyarakat tidak mungkin terus-terusan bisa membelinya. Bagaimanapun, kata dia, yang penting adalah adanya kestabilan harga baik untuk petani maupun masyarakat pembeli.

Oleh karena itu, tegasnya, yang seharusnya dilakukan adalah adanya solusi jangka panjang. Pihaknya mengiginkan agar petani terus disubsidi untuk menanam cabai.

Marwan meminta, agar pemerintah segera melakukan operasi lahan-lahan menganggur yang bisa diproduksi untuk menanam cabai, khususnya di Riau karena belum banyak masyarakat yang bergerak di bidang itu. "Contohnya, tahun ini, sudah dianggarkan pelatihan agar masyarakat bisa menggarap lahan nganggur. Ada beberapa kelompok tani bulan ini dikirim ke daerah terdekat dengan anggaran pendapatan dan belanja provinsi," ujarnya.

Setelah kelompok tandi dilatih, maka langsung dipraktikkan dengan bantuan bibit juga dengan APBD Provinsi Riau. Itu, kata dia, dilakukan Desember ini di bawah program dinas pertanian dan badan penyuluhan.

Harga cabai keriting di Riau beberapa hari ini mengalami kenaikan yang signifikan. Salah satu contoh di Kabupaten Siak menembus Rp 110 ribu per kilogram. Kenaikan harga sudah berlangsung dua pekan terakhir, minggu lalu saja sudah mencapai Rp 80 ribu per kg.

Di Pasar Tradisional Kota Dumai, harga capai asal Bukittinggi itu mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Warga pembeli mengaku, kaget beberapa hari sebelumnya masih Rp 65 ribu sampai 70 ribu per kg.
(na/rol)


Top