Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911.JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai sedang memainkan politik dua sisi kala melakukan safari ke institusi militer beberapa waktu belakangan ini. Kata Pengamat Militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, kepada Okezone, Minggu (13/11/2016).
Safari militer dilakukan Jokowi pasca demo 4 November 2016 yang menuntut agar kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses.

"Di sisi internal dia ingin menunjukkan pemerintahannya masih solid semua masih dalam kendalinya everything its ok. Yang kedua kepada pihak eksternal dalam hal ini kelompok masyarakat yang sedang menyampaikan harapan mereka yang boleh dibilang agak berbeda dengan posisi Jokowi. Nampak Jokowi ingin menunjukkan dia masih dalam posisi yang kuat di back- up penuh oleh militer, Polri, kekuatan keamanan," kata Fahmi.

Fahmi menilai langkah Jokowi cukup beresiko. Seolah-olah militer menjadi kelompok yang menentukan jalannya dinamika politik belakangan pasca-demo 4 November 2016.

"Tur Jokowi secara tidak langsung menunjukkan peran militer sebagai faktor penentu dalam dinamika politik kita. Ini tentunya beresiko karena sebagai aktor yang bisa mengendalikan situasi. Jangan sampai ini berdampak kepada menurunnya legitimasi pemerintahan yang sudah berjalan demokratis," katanya.

Karena itu,jangan sampai Jokowi hanya ingin memperkuat posisi kekuasaannya malah lantas bermain-main dengan militer yang memunculkan pendapat umum bahwa kekuatannya ditopang oleh kekuatan yang cenderung militeristik. (nn/okezon)


Top