Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. JAKARTA -Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah, Irman Gusman bersaksi dalam sidang kasus tindak pidana korupsi untuk terdakwa Xaveriandy Susanto dan istrinya Memi yang didakwa memberi hadiah Rp 100 juta ke Irman.
Kepada majelis hakim, Irman mengaku tidak mengetahui maksud pemberian uang Rp 100 juta dari Memi dan Suaminya pada saat malam penangkapan di kediamannya pada Jumat (16/9). Ia mengatakan uang Rp 100 juta yang dibungkus plastik itu diserahkan pasangan suami istri pengusaha gula sebelum berpamitan pulang.
"Mereka menyampaikan ini ada oleh-oleh, dalam bentuk bungkusan. Karena sudah malam saya tidak perhatikan detail, saya pikir ya suvenir atau apa dari sumbar, saya antarkan beliau pulang. Lalu saya bawa ke kamar," ujar Irman di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (22/11).
Menurutnya, ia justru baru mengetahui bungkusan tersebut berisi uang setelah petugas KPK meminta untuk menunjukkan pemberian dari Memi dan Sutanto. Ia membantah pemberian uang itu merupakan hasil kerjasama dengan Memi dan Sutanto sebagai bagi hasil distribusi gula di Sumatera Barat.
"Tidak ada, yang saya dengar itu oleh-oleh. Saya yang kepikiran itu gimana kelangkaan gula diatasi," kata Irman.
Irman mengungkap komunikasi intens dengan Memi dan Sutanto memang dilakukan berkaitan alokasi distribusi gula di Sumbar yang mahal pada waktu itu. Sehingga agar harga gula stabil, perlu tambahan alokasi distribusi gula ke Sumbar.
Karena itu pula pihaknya meminta Perum Bulog dalam hal ini melalui Direktur Perum Bulog Djarot Kusumayakti agar memberi alokasi tambahan ke Sumbar melalui perusahaan Memi dan Sutanto, CV Semesta Berjaya sesuai permintaan Memi.
"Saya sampaikan kelangkaan gula di dapil saya di Sumbar, Pak Djarot merespon, siapa mitranya, saya juga enggak ngerti. Saya bilang ada Bu Memi yang sudah saya kenal dan berpengalaman. Dalam pikiran saya gimana pak Djarot segera intervensi supaya harga stabil," kata Irman.
Menanggapi pernyataan Irman, anggota Hakim Ansyori Saifudin pun meminta penjelasan kepada Irman terkait berita acara pemeriksaan (BAP) yang ditandatangani Irman Gusman seusai penangkapan. Hakim membacakan BAP Irman bahwa kedatangan Memi dan Sutanto guna memberikan hasil keuntungan penjualan gula 1.000 ton sebesar Rp 100 juta.

Hal ini sesuai dengan kesepakatan Irman dan Memi soal imbalan Rp 300 per kilogram dari gula impor yang akan diterima CV Semesta Berjaya. Namun, Irman membantah pernyataannya yang dituangkan dalam BAP tersebut, ia mengaku tidak dalam kesadaran saat menandatangani BAP tersebut. Belakangan kata Irman, ia mengaku telah merevisi pernyataannya tersebut.
"Tidak yang mulia, posisi saya malam itu, saya kan panik, stress, waktu diperiksa dalam keadaan sangat tertekan. Saya jawab apa saja apa adanya. Tapi saya revisi di pemeriksaan kedua," ungkap Irman.
Ia juga membantah komitmen bahwa ia meminta imbalan Rp 300 per kilogram dari gula tersebut. Mendengar jawaban itu, Hakim anggota Halasan Butar butar pun mempertegas jawaban Irman tersebut.
"Keterangan Anda di BAP butir delapan, apakah itu sungguh yang anda berikan pada penyidik? Itu ada tanda tangan anda lho, anda paham tanda tangan dokumen itu," ujar Hakim.
Namun Irman kembali menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan perihal yang sebenarnya. "Paham yang mulia, tapi itu emang suasana kebatinan, kondisi mental dan kebatinan bercampur baur," ungkap Irman.
Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango menyinggung pernyataan Irman yang kerap berputar-putar dalam persidangan. Ia pun mengingatkan agar Irman jujur dalam persidangan.
"Saya ingin ajak anda ngomong yang benar, saya tidak perlu ngutip pasal 22 UU tipikor untuk kesaksian palsu. Anda bilang anda lulusan Amerika. JPU punya dokumen yang akan dia tampilkan di depan, terdakwa juga mengajuian JC untuk ceritakan segala sesuatu, Saya tidak ingin keterangan Anda kontradiktif di depan dengan permohonan JC," ungkap Hakim Nawawi.
Diketahui, Irman didakwa jaksa KPK menerima hadiah berupa uang sebesar Rp 100 juta dari Sutanto dan istrinya Memi. Ia diduga menerima hadiah selaku Ketua DPD karena telah mengupayakan CV Semesta Berjaya milik Xaveriandy Sutanto dan Memi mendapat alokasi pembelian gula yang diimpor oleh Perusahaan umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk disalurkan di provinsi Sumatera Barat.
Irman Gusman juga disebut meminta fee atau imbalan sebesar Rp 300 per kilogram dari kuota gula impor yang akan diperoleh CV Semesta Berjaya untuk distribusi Provinsi Sumatera Barat.
Atas perbuatannya, Irman dijerat pasal 12 huruf b atau pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 21 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.




(na/rol)


Top