Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911.JAKARTA - ‎Indonesia Corruption Watch (ICW) membeberkan fakta bahwa selama dua tahun bekerja, Jaksa Agung HM Prasetyo lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas dalam penanganan perkara kasus korupsi. Hal ini dikatakan  peneliti dari Divisi Investigasi ICW, Wana Alamsyah, di Kantor ICW, Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis (17/11/2016).
"Di bawah kepemimpinan HM Prasetyo, dia hanya memperhatikan kuantitas perkara kasus yang ditangani, bukan kualitas penanganan perkaranya," ujarnya.

Pasalnya, jelas Wana, sepanjang 20 November 2014 hingga Oktober 2016, ICW memantau Kejaksaan Agung (Kejagung) menangani 24 kasus korupsi dengan melibatkan 79 tersangka dan menimbulkan kerugian sebanyak Rp1,5 triliun.

Sementara itu, dari 24 kasus korupsi yang ditangani Kejagung, sekira 67% atau 16 kasus masih berada di tingkat penyidikan. Sedangkan kasus korupsi yang naik ke penuntutan hanya sekira 33% atau 8 kasus.

Seharusnya Kejagung fokus pada kualitas penanganan kasus korupsi dengan mengungkap siapa aktor utama yang berada di pusaran kasus korupsi tersebut.

"Jaksa Agung berdasar pemantauan kami, ternyata kebanyakan PNS pejabat pembuat komitmen yang ditahan. Tapi, aktor-aktor besarnya enggak ada," jelasnya.

Dengan demikian kinerja Jaksa Agung diberi rapor merah oleh ICW. "Sekelas Kejagung harusnya bisa menangani kasus korupsi besar yang membuat publik resah," pungkasnya. (nn/okezon)


Top