Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

Suryanews911.com,  Lubuk Basung -- Pasacakematian ikan di Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada akhir September 2016 berdampak pada Permintaan bibit ikan jenis nila di sejumlah Unit Pembibitan Rakyat (UPR) meningkat.

Nurmal Pemilik UPR nila super  di Lubuk Basung, mengatakan, permintaan bibit tinggi dari petani budidaya ikan setelah kematian ikan secara massal di Danau Maninjau. seperti dilansir antarasumbar

"Permintaan bibit ikan sangat banyak dan saya hanya mampu memenuhi sekitar 150 ribu ekor," katanya.

Bibit ikan nila dengan ukuran dua centimeter, katanya, dijual dengan harga Rp120 per ekor. Bibit yang dijual itu telah memiliki sertifikat.


Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam, Ermanto menambahkan, tingginya permintaan bibit ini akibat planton di Danau Maninjau sangat banyak setelah bangkai ikan terurai di perairan danau.

Dengan kondisi ini, petani tidak terlalu banyak memberikan pakan ikan dan ikan akan cepat besar."Ini informasi yang kita peroleh dari petani pascakematian ikan di Danau Maninjau, karena petani membuang bangkai ikan ke danau dan daging ikan akan terurai menjadi planton," katanya.

Sebelumnya, DKP Agam telah memberikan surat imbauan kepada petani untuk jeda menebar bibit ikan sampai awal 2017, karena pada akhir 2016 sampai awal 2017 curah hujan disertai angin berpotensi terjadi.

"Hujan disertai angin ini akan mengakibatkan kematian pada ikan, karena udara di dasar perairan akan berkurang," katanya.

Kondisi ini merupakan penyebab kematian ikan di Danau Maninjau. Pada 2016, katanya, sudah empat kali ikan mati di danau yakni, Januari sekitar 50 ton, Maret sekitar 300 ton, pertengahan Agustus sekitar 3.100 ton, 28 September sekitar 20 ton.
(d3)


Top