Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat



SuryaNews911. JAKARTA – Aliansi Advokat Muda Indonesia dan Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) melaporkan pelanggaran etik yang dilakukan Hakim Kisworo, Partahi Tulus Hutapea, dan Binsar Gultom ke Komisi Yudisial (KY). Tiga hakim tersebut dianggap mengabaikan etika hakim saat memimpin persidangan kasus dugaan pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso. Hal ini dikatakan Tim Advokat PBHI, Simon Fernando Tambunan.

Simon menilai bahwa ketiga hakim tersebut tak mampu memimpin sidang dengan baik. Hal itu terbukti dengan adanya kegaduhan-kegaduhan saat persidangan berlangsung yang cenderung dibiarkan sehingga memengaruhi sakralnya pengadilan.

"Harusnya dia menegakkan hukum acara yang baik dan benar. Ketika ada pertanyaan harus berimbang. Ketika ada keberatan harus disampaikan melalui majelis hakim. Tampak di sini hakimnya seolah-olah membiarkan kegaduhan itu," kata Simon di Komisi Yudisial, Jakarta, Senin (19/9/2016).

Tidak hanya itu, hal kedua yang menjadi perhatian Simon adalah pertanyaan hakim yang cenderung berpihak. Seharusnya, seorang pemimpin persidangan berlaku adil dan netral.

"Yang dilakukan Hakim Binsar sering sekali kemudian mengarahkan saksi, mengintimidasi saksi. Contoh paling gampang ketika dia bertanya pada saksi ahli, Binsar dengan tegas menjawab 'tidak boleh tapi', itu kata-katanya begitu. Saksi ahli kan tidak boleh dibantah keterangannya," paparnya.

Ketiga hakim persidangan Jessica juga dianggap mengabaikan prinsip peradilan asas praduga tak bersalah dengan mengajukan pertanyaan yang dianggap mengarahkan jawaban terdakwa. Namun begitu, Simon membantah laporan yang dimasukkan hari ini sebagai bentuk keberpihakannya pada pihak tertentu dalam kasus ini. Ia pun mengkritisi sejumlah tindakan pihak terdakwa dalam persidangan.  (nn/okezon)


Top