Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat



SuryaNews911. Lubuk Basung-- Akibat 3.050 ton ikan mati mendadak semenjak seminggu lalu, petani keramba jaring apung di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengalami kerugian sekitar Rp66.500.000.000. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam Ermanto di Lubuk Basung, Sabtu.

"Kerugian ini setelah 3.050 ton ikan milik puluhan petani di Danau Maninjau mati mendadak semenjak Jumat (26/8). Saat ini harga ikan di pasaran sekitar Rp19.000 per kilogram," kata
Ia menambahkan, ke 3,050 ton ikan ini berasal dari ratusan petak keramba jaring apung.

Ia mengatakan bahwa DKP sudah memberikan surat edaran agar memanen ikan secara dini, mengurangi penebaran benih ikan dari 20.000 per petak menjadi 2.000 per petak dengan ukuran 5x5 meter. Hal ini dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian cukup banyak.

"Surat edaran ini telah kita berikan menjelang Agustus 2016," katanya.

Menurutnya, kematian 3.050 ton ikan tersebut akibat racun belerang, pembangkitan arus dari dasar ke permukaan atau ikan kekurangan oksigen.


Kapasitas keramba jaring apung di danau tersebut juga sudah melebihi kapasitas karena sesuai dengan Perda dan penelitian dari LIPI danau hanya mampu menampung 6.000 petak keramba.

Namun yang ada saat ini, keramba jaring apung yang ada mencapai 18.000 petak dengan ukuran 5x5 meter.

Untuk mengatasi ini, petani harus mengurangi jumlah keramba jaring apung, mengatur jarak antar keramba sekitar 10 meter, mengatur jarak keramba dari bibir pantai sekitar 200 meter.

Sementara itu, anggota Koimisi III DPRD Agam, Jondra Marjaya, berharap pemerintah mencarikan investor dalam pengolahan ikan yang sudah mati ini, sehingga ikan mati itu bisa dipasarkan.

Pemerintah juga melakukan sosialisasi kepada petani tentang Perda No 5 tahun 2014 tentang pengelolaan kelestarian kawasan Danau Maninjau.

Lalu sosialisasi teknologi budidaya ikan dengan baik dan ramah lingkungan. (nn/antara)





Top