Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat



SuryaNews911.JAKARTA –Hukuman kebiri kimia tidak dapat dilihat dari sisi predator seksual anak, melainkan sisi korban juga harus diperhatikan. Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Dhanang Sasongko, kepada Okezone, Sabtu (17/9/2016).

"Ya, sebenernya kalau bicara mengenai pelanggaran HAM (hak asasi manusia), mereka (pelaku) melanggar HAM orang lain, hidup dan masa depan korbannya. Jangan dilihat dari situ (pelaku), tapi dilihat dari efek jeranya. Supaya apa, supaya masyarakat, kejahatan seksual tidak terulang karena adanya hukuman kebiri," kata Dhanang.

Dhanang menjelaskan bahwa dengan hukuman kebiri serta pemasangan chip kepada predator seksual anak adalah hukuman tambahan.

"Sebenernya hukuman ini (kebiri) adalah hukuman tambahan dari hukuman maksimal 20 tahun. Harusnya mereka melihat seperti itu, karena itu adalah bagian dari hukuman dan efek jera dari zat kimia. Ini (kebiri) bukannya langsung, tapi diberikan bahan kimia untuk menurunkan hasrat seksual," paparnya.

Selain itu, Dhanang menuturkan, hukuman sosial dengan menunjukan wajah pelaku juga bisa efektif menurunkan kejahatan seksual terhadap anak.

"Diumumkan identitas dirinya (pelaku), itu yang paling efektif, karena itu sanksi sosial. Jadi identitas di publikasi ke televisi dan media-media. Masyarakat perlu tahu identitas pelaku, lalu mereka yang akan melakukan kejahatan akan berpikir ulang," tukasnya. (nn/okezon)


Top