Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. JAKARTA - Begitu tiba di Tanah Suci Makkah tahun 1995, saya dan sejumlah wartawan yang mendapat tugas liputan dari Departemen Agama untuk kegiatan musim haji, sudah larut malam. Sekitar pukul 02.00 Waktu Arab Saudi.

Setelah melaksanakan thawaf qudum, saya dan teman-teman diantar Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, ke Kantor Perwakilan Haji, sekarang istilahnya Daerah Kerja Makkah, di wilayah Aziziyah, sekitar empat kilometer dari Masjidil Haram.

Saya dan teman-teman rombongan wartawan, ditempatkan di lantai dua. Begitu tiba di ruangan yang telah ditentukan, mata saya tak kuasa lagi untuk melek. Akhirnya, saya langsung berbaring tidur di kamar yang telah disediakan.

Sedangkan teman-teman wartawan lain, --mungkin sudah terbiasa begadang-- tak sedikit yang masih terjaga. Ada yang mengobrol, tak sedikit pula yang menyeduh kopi sambil merokok menikmati waktu malam di Tanah Suci Makkah.

Menurut seorang teman, ketika teman-teman asik mengobrol, ada seorang petugas haji lengkap dengan pakaian seragamnya, mendekati dan manayakan apakah teman-teman wartawan sudah membayar dam (denda). Seketika dijawab, karena baru tiba di Tanah Suci, bahwa mereka belum membayar dam.

Disepakatilah, membayar dam untuk seekor kambing seharga 300 Riyal. Sedangkan, bila bertujuh, bisa untuk seekor unta seharga 2.100 Riyal. Teman-teman wartawan pun langsung setuju dan merogoh koceknya untuk mengeluarkan Riyal demi membayar dam.
Sebelum meninggalkan ruangan, petugas haji tersebut menjanjikan akan membawa hati onta, sebagai bukti telah dibayarkannya dam teman-teman wartawan.
Tak lama setelah peristiwa pembayaran dam lewat seorang petugas haji itu, teman-temen wartawan liputan ke berbagai pelosok di Tanah Suci Makkah, termasuk di sisi-sisi di luar Masjidil Haram, salah satunya adalah penjualan hati onta.

Sontak, temen-temen wartawan pun terkejut. ''Jangan-jangan, biaya dam yang dibayarkan ke seorang petugas haji beberapa waktu lalu, tidak dibayarkan untuk biaya dam, karena hati onta bisa didapat dengan mudah, tanpa perlu menyembelih seekor onta,'' tanya seorang wartawan. ''Jangan-jangan kita sudah ditipu?'' timpal wartawan yang lainnya.

Akhirnya, ketujuh wartawan yang merasa tertipu oleh seorang petugas haji, beramai-ramai berangkat ke Pasar Kaikiyah, pasar hewan di Makkah, untuk membayar dam dengan cara langsung membeli hewan di tempat, sekaligus menyembelihnya. ''Mudah-mudahan pembayaran dam kali ini sesuai syariah dan diterima Allah SWT,'' ujar seorang teman wartawan penuh harap..
(na/rol)


Top