Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. MEDAN - Aparat kepolisian mengaku kesulitan menggali informasi dari pelaku teror bom dan serangan di gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan, IAH (18).
Keterangan yang disampaikan pelaku disebut selalu berbeda-beda kepada penyidik. Namun dalam pengakuan terakhirnya tersangka mengaku tak memiliki hubugan dengan kelompok radikal.

"Sampai saat ini keterangan tersangka masih berbelit-belit," kata Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP Mangantar P Nainggolan, Selasa (30/8).

Akibat keterangan yang berbelit-belit ini, Mangantar mengatakan, penyidik kesulitan menggali informasi terkait motif sebenarnya pelaku melakukan aksinya. Penyidik pun sulit menelusuri pelaku lainnya yang diduga terlibat.
Berdasarkan keterangan kepada penyidik, kata dia, pelaku mengaku melakukan aksinya seorang diri. Dia pun mengklaim tidak termasuk dalam jaringan radikal manapun. "Dia tidak ada masuk dalam jaringan atau kelompok. Main tunggal," ujar Mangantar.

Hingga saat ini, tersangka masih menjalani pemeriksaan di Mapolresta Medan. Ia didampingi oleh kedua orangtuanya.
Teror bom dan serangan fisik terjadi di Gereja Stasi Santo Yosep, Jl Dr Mansyur Medan, Ahad (28/8) pagi. Seorang pastor, Albert S Pandingan terluka di lengan kirinya akibat penyerangan ini.

Atas kejadian ini, pelaku berinisial IAH (18) pun telah diamankan. Pemuda berusia 18 tahun ini diringkus jemaat saat menyerang pastor Albert dengan pisau. Selain melakukan penyerangan, dia juga diduga ingin meledakkan bom yang dibawanya namun gagal. Saat itu, tasnya hanya mengeluarkan percikan api.
(na/rol)


Top