Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

Suryanews911.MEDAN – Seorang peserta program asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Saiko Putra (40), warga Jalan AR Hakim, Medan, Sumatera Utara, mengaku merugi setelah membayar iuran BPJS secara online melalui bank.

Saiko yang menjadi peserta BPJS Kesehatan untuk kelas III itu mengaku merugi karena sistem pembayaran online tersebut memaksanya membayar iuran BPJS lebih mahal dibandingkan yang ia bayar di periode sebelumnya.

“Selama ini aku cuma bayar Rp25.500 per bulan dan sudah bayar sampai bulan Juni. Tapi kemarin saat saya membayar secara online melalui teller Bank Tabungan Negara (BTN) di Jalan Denai, Medan, aku justru harus membayar Rp51 ribu per bulannya. Kok jadi mahal sekali. Apalagi saya harus membayar selama dua bulan (Juli-Agustus) dan untuk dua peserta,” ujar Saiko kepada Okezone, Selasa (30/8/2016).

Saiko mengaku sudah mempertanyakan kenaikan beban iuran itu kepada pihak bank tersebut. Namun, pihak bank hanya menjawab bahwa iuran tersebut sudah sesuai dengan nominal yang muncul dari sistem mereka yang terkoneksi dengan database BPJS Kesehatan.

“Katanya memang segitu pembayarannya. Katanya sudah sesuai apa yang muncul di sistem mereka. Ini ada apa. Apa ada kenaikan iuran. Saya sudah tanya ke kenalan saya orang BPJS Kesehatan dan katanya tidak ada kenaikan. Kok saya jadi seperti tertipu begini,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Humas BPJS Kesehatan Sumut, Ismed mengatakan, iuran BPJS kesehatan baik untuk kelas I hingga III, belum mengalami kenaikan. Semua peserta BPJS Kesehatan kelas III seperti Saiko masih membayar iuran sebesar Rp25.500 per bulannya.

Ia menduga kejadian yang dialami Saiko murni karena persoalan sistem yang mereka miliki. Ia pun berjanji akan melakukan penelusuran atas kasus tersebut.

“Belum ada kenaikan, masih pakai iuran yang lama. Mungkin ini persoalan sistem yang ada masalah. Tadi kita sudah cek ke sistem kita, bahwa yang bersangkutan (Saiko) membayar iuran sudah sampai November. Jadi sebenarnya besarannya pas. Tapi ini akan kita telusuri ke banknya juga. Selama ini belum pernah ada laporan seperti ini. Yang bersangkutan (Saiko) juga sebelumnya kan membayar dengan nominal Rp25.500 sesuai dengan iuran kelas-III,” jelasnya.

Ismet mengaku, sistem yang mereka gunakan memang merupakan sistem baru dan masih terus membutuhkan pembaruan dan perbaikan.

“Kita kan masih baru dengan sistem ini, masalah tentu ada. Tapi kita terus melakukan perbaikan,” kilahnya.
(bt/okz)


Top