Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

KUNINGAN -- Sejumlah artefak dari zaman neolitik (batu muda) sampai paleometalik (logam tua) ditemukan berceceran di Situs Taman Purbakala Cipari, kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Artefak-artefak seperti peti kubur batu, kapak batu, kapak perunggu hingga gelang batu yang tersimpan di Museum Purbakala Cipari, menjadi bukti shahih di tempat itu pernah hidup sekelompok manusia purba.

Artefak-artefak itu juga membuktikan kemampuan manusia purba yang tinggal menetap di sana lebih bagus dibandingkan yang lain. Pengelola Situs Taman Purbakala Cipari, Uu Mardia mengatakan, manusia purba asal Kuningan lebih artistik dibanding di tempat lain.
Anehnya, meski banyak ditemukan artefak di sana, tidak ada arkeolog yang menemukan fosil manusia purba atau pun binatang. Ada beberapa hipotesis tentang tidak ditemukannya fosil manusia purba di kawasan Taman Purbakala Cipari.

Guna menyusuri kehidupan manusia purba disana Fuji E Permana, menemui Pengelola Situs Taman Purbakala Cipari, Uu Mardia. Berbalut celana jens dan kaos santai, Uu menceritakan sejumlah temuan para arkeolog di situs tersebut.
Ia mengatakan, meski tidak ditemukan fosil manusia purba di Situs Cipari, jelas ada bukti yang menunjukan pernah ada kehidupan di sekitar situs Cipari. "Banyak juga ditemukan benda-benda peralatan rumah tangga yang terbuat dari tanah liat setelah melalui proses pembakaran (gerabah)," kata Uu pekan lalu.

Berdasarkan artefak hasil temuan, peneliti yang melakukan penggalian menyimpulkan, pernah ada manusia purba yang sudah hidup dengan cara menetap di kawasan Cipari. Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam. Artinya, mereka tidak berpindah-pidah tempat tinggal (nomaden).

Menurut Uu, manusia purba yang hidup di kawasan Cipari postur tubuhnya seperti manusia zaman sekarang (homosapiens). Mereka hidup di Cipari sejak zaman neoliti sampai paleometalik atau lebih dikenal zaman perunggu.

"Diperkirakan mereka hidup di Cipari sekitar tahun 1000 sampai 500 sebelum masehi," ujar Uu.

Arkeolog dari Universitas Indonesia, Ali Akbar menjelaskan, di periode neolitik manusia sudah bisa membuat bangunan. Namanya bangunan megalitik yang terbuat dari batu-batu besar. Bangunan megalitik terus berkembang sampai ke periode berikutnya.

Periode berikutnya disebut paleometalik, seperti perunggu. Jadi, manusia yang hidup dan menetap di Capiri sudah ada sejak periode neolitik sampai paleometalik.

Menurut Ali, karena mereka hidup di dua periode, biasanya tahunnya disebutkan yang lebih muda yaitu 1.000 sampai 500 sebelum masehi. Itu periodesasi umum berdasarkan peningalannya atau disebut pertanggalan relatif. Jadi, periode paleometalik berlangsung sekitar tahun 1.000 sampai 500 sebelum masehi.

"Periode neolitik itu bisa lebih dari 1.000 sebelum masehi, bisa 4.000 tahun atau 2.000 tahun sebelum masehi," kata Ali menjelaskan.

Alat-alat batu di periode neolitik ditandai dengan bentuk batu persegi empat. Selain itu batunya sudah diasah permukannya. Pekakasnya sudah halus sebab sedang menuju ke zaman perunggu. Di Museum Cipari bisa dijumpai banyak pekakas dari batu yang sudah di asah sampai sangat halus.

 Jenis batu-batuan yang digunakan sebagai bahan dasar perkakas manusia purba Cipari diindikasi bukan batuan asli dari wilayah Kuningan. Batu-batuan tersebut jenisnya kalsedon, jasper, obsidian dan kuarsa.

Uu menerangkan, berdasarkan hasil peneitian, batu-batuan tersebut tidak ada di wilayah Kuningan. Kemungkinan, batuan tersebut dibawa dari wilayah lain.

Contohnya, ada sebuah gelang batu yang terbuat dari batu jenis jasper. Gelang batu tersebut buatan manusia pada periode neolitik. Menurut arkeolog, pada periode neolitik manusia mencapai puncak tertinggi penguasaan alat batu.

Ali mengatakan, pada periode neolitik, alat-alat yang terbuat dari batu sudah sangat halus. Bentuknya banyak yang sudah simetris. Kemudian, periode selanjutnya manusia mengenal logam. Pada masa itu alat batu mulai ditinggalkan. 

Menurut Ali, hampir di seluruh dunia ada peninggalan manusia purba zaman neolitik. Kapak batu dan perunggu ditemukan juga di Benua Asia, Eropa dan Amerika. Gelang batu buatan manusia pada zaman neolitik pun ditemukan juga di negara-negara lain.

"Tapi memang kalau saya perhatikan, yang buatan Indonesia lebih halus," jelas Ali.

Pembuatan kapak maupun gelang batu nampak lebih teliti dan lebih detail. Bahkan, dikatakan Ali, saat melakukan eksperimen membuat kapak dan gelang batu, ternyata pengrajin zaman sekarang kesulitan membuatnya.

Para pengrajin banyak yang mengatakan susah untuk membuat gelang batu mirip seperti buatan manusia purba zaman neolitik. Padahal di zaman modern ini sudah ada peralatan mesin. Seharusnya, dengan menggunakan mesin lebih cepat pengerjaannya, tapi ternyata tidak bisa.

"Meski menggunakan mesin gerinda, mesin potong dan asahan, para pengrajin tetap kesulitan," kata Ali.

Ali menerangkan, kemungkinan, dulu ada sebuah alat yang diciptakan manusia pada masa neolitik. Alat untuk membuat kapak batu dan membuat gelang batu seperti yang ditemukan di Taman Purbakala Cipari. Hanya saja alatnya belum bisa ditemukan. Kemungkinan besar alatnya terbuat dari bahan yang mudah hancur.

Sebab, kalau manusia yang hidup pada masa neolitik menggunakan asah manual untuk membuat gelang batu, hal tersebut akan memakan waktu sangat lama. Hasilnya tidak mungkin rapi dan halus.

"Hasil ekperimen para ahli, kemungkinan alatnya itu terbuat dari bambu. Bambu ada lingkarannya, bambunya diptuar-putar menggunakan tali," jelas Ali.

Ia mengungkapkan, ternyata bambu mampu menggerus batu meski pohon bambu nampak tidak kuat. Kemungkinan besar manusia pada zaman neolitik yang pernah hidup di kawasan Cipari memiliki alat-alat untuk membentuk batu.

"Tingkat kehalusan dan kerapian gelang batu jarang yang seperti di Cipari, bisa dikatakan masyarakat di situ sangat artistik, nilai artistiknya tinggi," tegas Ali.


Peti Kubur Batu dan Kepercayaan Manusia Purba

Pada zaman neolitik manusia diyakini belum mengenal tulisan. Pada akhir zaman perunggu atau akhir zaman paleometalik manusia baru mengenal tulisan (akhir masa prasejarah).

Arkeolog dari Universitas Indonesia, Ali Akbar menegaskan, yang harus dipahami, meski manusia tidak mengenal tulisan bukan berarti kebudayaannya rendah. Bukan berarti peradabannya rendah.

Mereka sudah bisa berbicara (menggunakan bahasa), tapi mereka tidak menulis. Mereka juga sudah bisa membuat bangunan besar dan bisa mengecor logam. Ali mengungkapkan, artinya manusia pada masa itu sudah bisa memilih mana mineral yang bagus dan bisa diolah lebih lanjut.

"Mereka sudah mampu mengelola api untuk menghancurkan biji logam. Sebab untuk menghancurkan logam apinya harus konstan," katanya.

Jadi, meski disebut zaman prasejarah, manusia pada masa neolitik kebudayaannya sudah tinggi. Sudah hidup menentap, bercocok tanam, membersihkan lahan pakai peralatan batu dan mengenal kepercayaan (agama).

Bukti manusia purba di Cipari sudah mengnut sistem kepercayaan karena ditemukan peti kubur batu. Peti kubur batu difungsikan sebagi tempat untuk menyimpan mayat. Tapi tidak ditemukan fosil atau kerangka manusia di dalamnya.

Pengelola Situs Taman Purbakala Cipari, Uu Mardia mengatakan, meski tidak ditemukan kerangka manusia di dalam peti kubur batu, peneliti menemukan bekal kubur di dalamnya. Bekal kubur itu berupa peralatan waktu mereka hidup. Kemungkinan, ada suatu kepercayaan di zaman itu.

"Saat ada orang yang meninggal harus dikuburkan bersama peralatan yang sering digunakan saat dia masih hidup, seperti perhiasannya," kata Uu.

Adanya peralatan yang terkubur di dalam peti kubur batu, menurut Ali, menunjukan ada konsep setelah meninggal manusia masih akan hidup lagi di tempat lain. Jadi semacam ada kepercayaan ada kehidupan di alam arwah. Sehingga, ketika meninggal dia dibekali dengan benda-benda.

"Makanya di dalam peti kubur batu itu ada manik-manik, gerabah dan baliung," kata dia.
(na/rol)


Top