Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911.Jakarta -Pemerintah Indonesia dan Selandia Baru meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan dan pangan. Dalam penandatangana nota kesepahaman, Indonesia diusulkan menjadi pusat produksi susu di Asia Tenggara.

"Saya menyambut baik investasi Selandia Baru sejak 2014 di sektor pengelolaan susu dan produk susu. Indonesia diusulkan agar dapat dijadikan pusat produksi produk susu di Asia Tenggara," ujar Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan PM Selandia Baru John Key di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (18/7/2016).

Selain sektor peternakan, kedua negara juga menyepakati kerja sama produk padi dan ekspor buah tropis dari Indonesia ke Selandia Baru. "Kita sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang leading sektor dan juga yang berkaitan dengan produk padi," tutur dia.

Indonesia juga fokus meningkatkan kerja sama di bidang energi baru terbarukan. Seperti geotermal dan kerja sama bidang energi tenaga air. Termasuk beberapa kerja sama multilateral.

"Geotermal tetap menjadi prioritas kerja sama ini, dan sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi tenaga air," tandas mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong menargetkan peningkatan transaksi perdagangan sebesar USD2 miliar dengan Selandia Baru pada 2024 mendatang. "Pada tahun 2024, kami ingin meningkatkan hubungan perdagangan dari kira-kira USD1 miliar menjadi USD3 miliar," ujar Lembong.

Lembong mengatakan, beberapa produk yang nantinya akan didorong untuk dapat meningkatkan nilai perdagangan antar kedua negara antara lain adalah produk agrikultur dan bahan baku pakan ternak.

"Kita juga mau melihat untuk sektor yang ada di abad ke-21, seperti pendidikan, e-commerce dan tentunya pariwisata serta jasa," ungkap dia.

Adapun total nilai perdagangan Indonesia dengan Selandia baru pada 2014 tercatat sebesar USD1,31 miliar, di mana Indonesia mengalami defisit senilai USD354,61 juta dengan total ekspor sebesar USD481,4 juta dan impor USD836,03 juta.

Sementara pada 2015, total perdagangan kedua negara mengalami penurunan menjadi USD1,07 miliar, dan defisit mencapai USD200,8 juta dengan kinerja ekspor yang juga menurun menjadi USD436,25 juta dan impor sebesar USD637,0 juta.
(bt/metro)


Top