Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. JAKARTA - Pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah radikalisme bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan soft power, misalnya dengan pendekatan kesejahteraan. Namun ada pula yang menggunakan hard power dengan tindakan represif hingga memakan nyawa atau menewaskan target operasi.
Cara represif ditunjukkan saat aparat menembak pimpinan kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah, Santoso.  "Ini semua harus berdasarkan hasil penyelidikan atas embrio dan faktor determinan terorisme di suatu daerah, dalam hal ini Poso," kata pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati  Ahad (24/7).
Menurut dia, jika memang yang dibutuhkan kelompok Santoso sebenarnya adalah kesejahteraan, maka sangat mungkin mereka mau turun gunung bila dilakukan pendekatan yang sesuai. 
Seperti diberitakan sebelumnya, Santoso tewas ditembak mati Satgas Tibombala. Sisa anggota kelompoknya hingga masih diburu oleh Satgas tersebut. Hanya tinggal 16 orang yang tersisa di hutan Gunung Biru.

Satgas Tinombala menggunakan teknik Attrition Warfare atau yang disebut perang berlarut. Jadi pasukan tersebut tetap berada di hutan selama 24 jam di hutan dan tidak kembali ke barak. Strategi ini sungguh merepotkan sisa kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Apalagi, bahan makanan di hutan juga dihabisi oleh pasukan Tinombala. Mau tidak mau, kelompok ini terdesak dan semakin sulit bergerak.
(na/rol)


Top