Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat



SuryaNews911. Istanbul.-- Fethullah Gulen berada dibalik kudeta gagal Turki. Hal ini disampaikan oleh Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki, dalam sebuah wawancara dengan saluran "France 24" Perancis, pada hari Jumat, 22/7/2016.
"Ini banyak diakui oleh para tahanan” ujar Erdogan menambahkan.
Turkey Post melaporkan, Presiden Turki menekankan perlunya membersihkan semua lembaga di negara dari anggota organisasi "Fethullah Gulen (entitas paralel)" untuk mencegah agar jangan lagi terjadi lagi bahaya yang lebih besar. 
"Organisasi teroris telah menyusup ke lembaga militer, keamanan,  dan kementerian selama lebih dari 40 tahun dan telah tumbuh seperti   kanker.  Bahkan dalam sektor swasta pun juga terjadi.  Untuk itu perlu diambil langkah-langkah guna memecahkan masalah ini” ujar Erdogan.
Ketika ditanya tentang kritik Eropa terhadap Turki, presiden balik mengkritik keadaan darurat yang diumumkan oleh Perancis, Belgia, Amerika Serikat dan Jerman setelah adanya serangan teroris.
"Jerman mengumumkan keadaan darurat di Munich setelah enam orang terbunuh sedangkan saya berbicara tentang kematian 246 orang dan melukai 2.185 lainnya akibat upaya kudeta yang gagal.  Negara di Eropa mengumumkan keadaan darurat, kondisinya tidak segawat peristiwa di Turki dalam menghadapi upaya kudeta di seluruh negara”.
Menjawab hukuman yang akan diberlakukan bagi para pengkudeta, Erdogan menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam upaya kudeta gagal, dihukum menurut aturan yang ditetapkan oleh Konstitusi Turki.  Kita hanya menjalankan sebagaimana diatur dalam undang-undang, seperti halnya juga negara lain.
“Jika rakyat menuntut hukuman mati, dan ini disetuju oleh parlemen, itu harus dipatuhi karena itulah salah satu tugas dari politisi.  Apakah hukuman mati ada di Amerika, Rusia dan China?, Ya, itu ada. Saat ini ada di sebagian besar negara di dunia. ", ujar Erdogan.(ch).


Top