Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. Bukittinggi - DPRD Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), meminta pemerintah daerah setempat terbuka mengenai penyebab kematian dua ekor anak harimau sumatera atau Panthera Tigris Sumatrae yang merupakan koleksi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK).

Ketua Komisi III DPRD setempat, Rusdy Nurman saat memantau kondisi di TMSBK, Sabtu, mengatakan keterbukaan diperlukan agar tidak menimbulkan asumsi negatif di masyarakat.

"Keterbukaan itu juga dibutuhkan, sekiranya ada kendala dalam operasional, maka dapat segera dicari solusi misalnya penambahan anggaran untuk perawatan satwa," jelasnya.

Ia mengatakan kematian harimau Sumatera tersebut sangat disayangkan karena sejak kelahirannya telah menjadi daya tarik atau maskot baru TMSBK.

"Kami harap, hasil pemeriksaan kedua satwa itu dapat disampaikan secara terbuka. Selain itu bila ada kendala dalam operasional, harap segera disampaikan karena DPRD tentu mendukung dalam penganggaran," ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) setempat, Melfi Abra mengatakan pemerintah tidak akan menutupi kondisi dan penyebab kematian kedua satwa itu.

"Untuk sementara, memang belum ada informasi yang dapat disampaikan karena hasil labor belum kami terima. Kami masih menunggu," tegasnya.

Informasi sementara, ia melanjutkan, menurut tim dokter di TMSBK, satwa tersebut menderita kelainan genetika sehingga harus menjalani rawat jalan dari Dinas Peternakan Sumbar di Padang.

"Sejak satu bulan lalu sudah menjalani perawatan di sana, kemudian di karantina di TMSBK. Kondisinya juga sempat membaik namun kembali menurun satu hari sebelum kematiannya di TMSBK," katanya menambahkan.

Terkait adanya indikasi tindak kekerasan yang dilakukan oknum petugas, pihaknya belum mendapatkan bukti untuk hal tersebut, namun jika hal itu terjadi pemerintah setempat akan mengambil tindakan tegas.

Sementara, Kepala Bidang TMSBK, Ikbal menambahkan, selain dua anak harimau yang mati pada 30 Juni 2016 dan 1 Juli 2016 tersebut, sebelumnya dua ekor anak harimau dahan juga mati pada Mei lalu.

"Kedua anak harimau dahan juga menderita kondisi yang sama selain itu keduanya lahir prematur pada awal Januari 2016 lalu," ujarnya.
(na/antara)


Top