Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911. JAKARTA - Sebanyak 51 ribu dari 280 ribuan dosen di Indonesia masih berkualifikasi akademik strata satu (S1). Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat dosen menjadi faktor penting dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

Direktur Jenderal Sumber Daya, IPTEK dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka sulit melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.
“Pertama, hampir sebagian besar usianya lebih dari 50 tahun. Kebanyakan susah diajak sekolah lagi dan ngikut saja,” kata pria yang biasa disapa Ghufron ini kepada wartawan di Gedung D Dikti Senayan, Jakarta, belum lama ini.

Selanjutnya, kata dia, karena terbatasanya ketersediaan beasiswa untuk mereka. Menurut Ghufron, pemerintah sebenarnya sudah memiliki banyak beasiswa tapi kuotanya terbatas. Dengan kata lain, mereka harus bisa berkompetisi dengan calon penerima beasiswa lainnya.
Dia mencontohkan, kuota Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) dalam negeri yang hanya 2.000 sedangkan pendaftarannya sudah mencapai 7.796 orang. Di samping itu, tidak semua Perguruan Tinggi (PT) menyediakan beasiswa untuk dosennya.

“Kesulitan berikutnya adalah kemampuan bahasa Inggris yang biasanya dilakukan tes terlebih dahulu,” kata dia. Selanjutnya, beberapa dosen tersebut pernah gagal pada tes potensi akademik (TPA). Mereka seringkali memperoleh nilai rendah sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk melanjutkan studinya.

Untuk bisa menghadapi hal tersebut, menurut dia, beasiswa memang menjadi solusinya. Institusi atau universitas juga perlu mendorong dan terlibat dalam hal ini. Pihaknya juga mengklaim telah melaksanakan program Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). “Pelatihan penulisan dalam bahasa Inggris dan pemberian prior recognition by learning (pengakuan pembelajaran lampau) bagi dosen-dosen,” kata dia.
 (na/rol)


Top