Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911.KOTAWARINGIN BARAT- Sejumlah orangtua siswa SMA Negeri 2 Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat mengeluh. Pasalnya, sejumlah orangtua yang belum membayar uang iuran (sumbangan) pembangunan gedung baru, tidak bisa mengambil ijazah untuk anak-anaknya yang telah dinyatakan lulus.

"Kemarin saya ke sekolah untuk mengambil ijazah, karena belum melunasi iuran, tidak boleh. Sampai sekarang ijazah anak saya masih ditahan," ujar salah seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di rumahnya di Pangkalan Bun, Kamis 28 Juli 2016.

Besaran iuran, katanya, Rp466 ribu per anak. Terang dari pihak sekolah, dana yang terkumpul dari orangtua tersebut akan digunakan untuk biaya pembangunan gedung baru. "Iya mas, tidak boleh kurang. Harus bayar segitu, kalau tidak ijazahnya tak boleh diambil," ucapnya lesu.

Terpisah, NS, orangtua siswa yang baru saja melunasi pembayaran iuran tersebut mengaku kesal. Pasalnya, dari awal pihaknya tidak pernah setuju dengan adanya iuran yang nilainya sudah ditetapkan tersebut. "Pada rapat pertama dulu, saya tidak setuju. Kemudian ada undangan lagi, saya dan sejumlah orangtua sepakat tidak hadir. Tiba-tiba saja datang surat tagihan untuk pembayaran iuran," terangnya.

Pihaknya juga mempertanyakan pengelolaan dana dari iuran tersebut, "Katanya sudah mendapat dana dari pusat dan kabupaten, kok kami ditarik iuran lagi," ucap NS, mempertanyakan kebijakan tersebut.

Karena memerlukan ijazah untuk masuk perguruan tinggi, kata NS, ia dan sejumlah orangtya siswa pun terpaksa melunasi iuran tersebut. "Mau gimana lagi, ya harus bayar. Bahkan tadi saya harus balik lagi ke rumah karena uang yang saya bawa ternyata kurang Rp16 ribu. Harus pas Rp466 ribu, tidak boleh kurang," cetusnya.

Sementara itu Kepala SMA Negeri 2 Pangkalan Bun, Khairil Anwar mengaku jika iuran dan besarnya iuran tersebut ditetapkan berdasarkan kesepakatan komite dan orangtua. Ia juga membantah jika sekolah menahan ijazah hanya karena semata-mata tidak membayar iuran tersebut. "Bagi orangtua yang bisa menunjukkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, akan kami bebaskan dari iuran tersebut," katanya.

Pembangunan gedung itu, terang Khairil, menghabiskan dana sekira Rp1,8 miliar. Rincianya, Rp1,5 miliar dari APBN, Rp150 juta dari APBD Kabupaten Kobar, dan sisanya Rp240 juta diambil dari iuran orangtua.

"Kalau dikatakan sekolah menahan ijazah siswa karena belum membayar iuran tersebut tidak benar. Bagi orangtua yang tidak mampu, silahkan datang ke sekolah, pasti kami berikan ijazah anaknya. Asal, ada bukti jika yang bersangkutan memang keluarga tidak mampu.
(bt/okz)


Top